Ish, kamu gombal deh.
Malam ini lagi-lagi saya harus berperang dengan musuh terbesar saya, aka diri saya sendiri.
Cinta yang aku punya untuknya itu satu paket dengan cemburu. Bundling. Kalau jaman dulu, injection. Tidak bisa didapat terpisah. Dan juga tidak mungkin untuk tidak ada. Ngerti nggak?!
Jelasnya mengakhiri beberapa menit perang dingin kami.
Iya. Tapi sadarkah kau bila itu menyiksa?!
Lalu?!
Lah., maksudnya lalu?
Trus mau apa?! Mau menghilangkan rasa itu? Sudah kubilang dia satu paket. Menghilangkan yang satu berarti menghilangkan koneksi diantara keduanya!
Tapi, bisa saja dia beranggapan aku tidak dewasa.
Kamu merasa demikian?
Tidak.
Ya sudah.
Tapi dia bilang aku tidak percaya diri.
Dan kamu merasa demikian?
Aku memang punya kekurangan, tapi aku punya jauh lebih banyak kelebihan.
Bukan itu pertanyaannya. Kamu percaya diri atau tidak?
Aku sudah bilang, aku punya banyak…
Percaya diri atau tidak?!
Sudah pasti!!!
Ya sudah. Kamu tidak ingin merasa cemburu? Bila begitu mudah saja. Kan kuubah hati ini menjadi batu, jangankan cemburu, kamu pun tak kan bisa merasa cinta dan rindu. Mau?!
Aku terdiam. Aku mencoba berdamai dengannya. Berharap diam bisa menyelesaikan semuanya.
Mau atau tidak??!
Ku rebahkan kepalaku, kupeluk guling erat-erat. Kutelusupkan wajahku diantara bantal-bantal itu.
Diam artinya tidak. Kuberi kau waktu untuk memikirkannya lagi.
Aku menarik nafas dan tetap diam. Mataku pun mulai terasa panas. Dan ahhhh., rasa marah membuatku merasa lapar. Siyal.
Menyambung postingan catatan perjalanan ke nusa Penida yang pertama, petualangan di Hari Kedua sudah pasti tidak kalah menarik. Menikmati matahari pagi sudah tentu jadi hidangan pembuka yang dinanti.
Konyol #2:
Nilai lebih lain yang kita dapat dari menginap di FNPF adalah, sunrise tepat di halaman rumah.
Agak sedikit berlebihan sih, tapi memang dari pantai yang sama kami bersnorkling ria, kita bisa melihat terbitnya matahari yang jernih, bersih, cerah, dan JINGGAAAA!!!!!!
Sehabis quick breakfast kami pun kembali menunaikan hasrat bersnorkling. Meski masih di lokasi yang sama keragaman ekosistem bawah laut tetap mampu memesona kami. Tapi agenda sehabis snorklinglah yang membuat kami tidak sabar memulai hari itu.
Tuh., liat pemandangan di belakang!!
Nusa Penida, selain terkenal dengan pemandangan bawah lautnya juga terkenal dengan pemandangan perbukitannya. Sebut saja mata air peguyangan dan mata air seganing. Tapi alih-alih mengunjungin kedua mata air tersebut, kami diberi masukan oleh para volunteer FNPF asli Nusa Penida untuk mengunjungi daerah Temling, karena dengan mengunjungi daerah ini kami diiming-imingi pemandangan lain yang tiada duanya. Kami pun tergiur. Belum lagi Pak Panca yang memang juga amat sangat merekomendasikan tempat ini.
Rupanya Mata Air Temling bukanlah tempat yang mudah dijangkau, naik turun bukit pun harus kita lalui selama kurang lebih 30 menit. Tapi lelah sepanjang perjalanan terbayar lunas begitu sampai di lokasi yang dituju. Mata air yang bermuara pada sebuah kolam (yang sepertinya) tanpa dasar ini benar-benar dahsyat, belum lagi tebing-tebing yang mengitarinya. Indah!
Saat kami mengunjungi Mata Air Temeling terlihat 7 bocah sedang asyik menikmati kolam ini. Ada yang berenang hingga ke tengah, ada yang sedang memancing ikan, ada yang sedang mempersiapkan api untuk manggang, ada yang hanya berendam di pinggir (ternyata dia ga bisa renang), dan ada pula yang sedang berpura-pura jadi atlit renang.
Perenang pertama, I Kadek bla bla bla, dari Nusa Penida, dengan nomor Gaya Bebas 200 meter
Lucunyaaa...... Ini pasti bukan acara Bolang, habis akting mereka alami sekali., hihihi...
Saya : Boleh ngga saya ikut renang di sini??
Anak I : Boleh.
Saya : Dalem ngga??
Anak II : Dalemmmm...
Saya : Sedalem apa??
Anak I : Ngga tau.
Saya : Loh kok ngga tau??
Anak II : Orang nyambung ini kolamnya sama laut yang disana.. *menunjuk ke arah Utara*
Nah loh!! Jiper dah guwehh. Begini nih mental kebanyakan nonton sinetron garuda-garudaan di Indosiar plus film monster-monster bawah laut sejenis film Deep Blue Sea. Mampus dah! Walhasil di kala teman dan anak-anak lain asyik berenang dan bermain air, saya berenang dengan perasaan penuh dag dug dag serrr.., ke tengah – ke pinggir – ke tengah – trus melipir lagi ke pinggir. Ga berani jauh-jauh apalagi membuka mata di dalam air dan melihat apa isinya. Duh.
Sayang sekali durasi yang diberikan sangatlah tipis, time keeper kita aka Pak Panca segera memberikan kode bahwa kita masih punya banyak tempat untuk dikunjungi dan harus segera berangkat apabila tidak mau tertinggal boat kembali ke Sanur.
Kembali berjalan ke lokasi tempat mobil diparkir benar-benar butuh usaha extra keras, basah, terik, plus medan batu kapur yang menanjak agak sedikit sulit di daki. Tapi melihat teman-teman kecil yang begitu amat semangat menemani kita pulang membuat kita sedikit termotivasi. Dan kita butuh waktu 60 menit untuk mencapai tujuan. Liat aja tampangnya Lina yang kecapekkan.., hihihi...
Setelah sedikit dadah-dadah, kita pun menuju ke lokasi berikutnya, lokasi yang disebut-sebut bernama Baha.
Dua kata aja, Beuh indahnya!!! Karena saya tidak mampu mengambarkan keindahannya., maka ijinkan gambar dari kamera milik Lina PW yang berbicara.
Kita seperti melihat harta karun yang amat sangat berharga..
Konon, bukit di sekitar lokasi ini sudah habis terbeli oleh para bisnismen dari Jakarta dan dari Luar Negeri. Harganya dulu ketika tahun 1995 hanya 300ribu rupiah/are, harga hari ini 15 juta rupiah/arenya. Murah? Mau Beli? Tadi kan sudah saya bilang, sudah habis bis bis.
Kenapa belum ada tanda-tanda pembangunan? Karena konon setiap hotel atau villa yang berniat untuk membangun di lokasi ini sudah terlebih dahulu digadang-gadang oleh Pak Candra untuk membagi keuntungan hotel/villa tersebut sebesar 5% kepada Pak Candra. Siapa Pak Candra? Jangan tanya saya ah, saya juga ngga tahu siapa Pak Candra. Tapi konon lagi, jangankan membangun hotel, wong membangun/ mengoperasikan SPBU di pulau ini saja harus membagi keuntungan pada Pak Candra. *buka yellow pages nelponin satu-satu yang namanya Candra*
Saya jadi bingung antara senang dengan tidak senang. Senang karena dengan begitu tidak ada swasta yang memonopoli pemandangan indah ini, saya lebih setuju Pemerintah Daerah yang memiliki inisiatif untuk mengelola daerah sekitar ini ketimbang swasta. Mosok iyo nanti kita mengunjungi tempat ini harus masuk areal hotel tertentu dan kena charge biaya yang mahal. Tidak senang, karena harusnya ada aturan yang jelas mengenai pelarangan/pembantasan bangunan di area tersebut ketimbang pake 5% itu. Dan teman saya yang bernama Kusuma asik koar-koar soal sempadan, sempadan juranglah, sempadan pantai lah. *liburan ini kus, liburan!!! kerjaan kantor kok di bawa2 liburan*
Okay, time-out.
Kami pun pulang ke basecamp, bersih-bersih, mandi, packing-packing, dan menyelesaikan beberapa urusan pembayaran sebelum akhirnya menuju Pelabuhan Buyuk untuk kembali ke Pulau Bali.
Terimakasih untuk semua pihak yang mendukung suksesnya liburan kali ini.
Teman-teman dari FNPF
Driver, Guide, Time Keeper, sekaligus merangkap Photographer kita yang baik hati, Pak Ketut Panca. Bagi teman-teman yang mencari supir untuk berwisata (baik wisata air, wisata keliling pulau, ataupun wisata spiritual) di Nusa Penida, saya rekomendasikan Pak Ketut Panca, baik hati dan memberikan harga yang lebih bersahabat ketimbang supir yang lain. Hubungi beliau di +62818557695.
Sekilas mengenai Pak Panca:
Teman-teman seperjalanan yang hebat!!
Berikut ini beberapa catatan penting yang wajib untuk dibaca apabila teman-teman ingin berlibur ke Nusa Penida.
Yang harus dibawa:
Itinerary perjalanan selama di sana (kalau tidak salah ingat):
Biaya selama disana:
Perjalanan kali ini benar-benar lengkap seperti yang dikatakan teman saya Kusuma, “Snorkling dapet, Sembahyang dapet, Hiking dapet, teman baru pun dapet, ini baru namanya liburan”.
Jadi, apa anda tertarik untuk mengunjungi Nusa Penida??? Ayooooo, jangan tunda lagi!!!!!
Setelah bolak-balik Pemuteran – Bloo Lagoon – Pemuteran – Bloo Lagoon, akhirnya saya berkesempatan mencicipi lokasi snorkeling yang lain dari dua lokasi itu. Nusa Penida.
Niat awalnya sih mau ke Nusa Lembongan, etapi gara-gara nyebut Manta ternyata haluan bergeser sekitar tiga puluh derajat (sotoy gitu saya
), dan di pulau terbesar dari tiga pulau lain yang terletak di Tenggara Pulau Bali inilah akhirnya 7 anak muda terdampar dengan satu tujuan mulia, bersenang-senang.
Saking panjangnya cerita ke Nusa Penida ini, saya merasa harus membaginya menjadi dua postingan yaitu di sini dan di sini. Selamat menikmati..
Kalau di kesempatan snorkeling sebelumnya saya sudah berhasil meracuni dua orang terdekat untuk ikut mencicipi indahnya pemandangan bawah laut – kakak kandung dan teman kuliah sekaligus teman kantor yang juga ikut serta dalam perjalanan ini, kali ini saya berniat meracuni kekasih hati saya, dan berhasil!! Hooray!!!
Banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum kami berangkat ke Nusa Penida, terutama untuk menyebrangi Selat Badung, selat yang memisahkan Pulau Bali dengan Pulau Nusa Penida.
Setelah pembicaraan yang hanya melalui milist BBC dan chat seadanya, akhirnya kita sepakat untuk berangkat dari Pantai Sanur dan naik speed boat dengan tujuan Pelabuhan Banjar Nyuh di hari Sabtu pagi yang cerah ceria.
Setibanya di Pulau yang dituju saya akhirnya bertemu dengan Supir yang direkomendasikan teman saya untuk berkeliling di Pulau ini, namanya Pak Ketut Panca, lelaki ramah baik hati dan tidak sombong. Serius, ini benar!
Pertama kita meminta Pak Panca untuk mengantar kita mencari penginapan, namun di tengah perjalanan mencari penginapan kita malah berbelok ke FNPF (Friends of National Park Foundation). Kita tertarik untuk mampir karena FNPF ini memiliki program melestarikan salah satu burung langka yang merupakan spesies endemis Pulau Bali Jalak Bali di Pulau Nusa Penida. Menyempatkan diri melihat-lihat dan mendengar sedikit penjelasan dari Mr. Mike, salah satu volunteer di FNPF ini mengenai visi misi dari FNPF di Nusa Penida. Beberapa kali melihat burung Jalak Bali yang seliweran kesana kemari rasanya sungguh amazing, mengingat burung ini sudah tidak pernah kita temui di Kota Denpasar. Yaiyalah, hewan liar mana yang mau berteman akrab dengan polusi kota besar. Sayang sekali kamera Lina PW belum di-upgrade dengan menggunakan tele seharga sepeda motor matic [hihihi...] sehingga tidak bisa menangkap penampakkan burung cantik ini.
Setelah ngobrol ngalor ngidul dengan si empunya tempat, akhirnya kami ditawari untuk menginap di dormitory milik FNPF dengan biaya yang sesungguhnya sedikit lebih mahal dari yang sudah kita perkirakan, tapi mengingat fasilitas yang ditawarkan cukup menggiurkan (boleh pakai kamar mandi dan dapur sepuasnya dan plus-plus lainnya) akhirnya kami memutuskan untuk menginap di sini. Sebenarnya dormitory ini pun tidak untuk disewakan namun karena kebaikan hati para pengurus FNPF plus gosip yang menyatakan bahwa penginapan di sekitar Toya Pakeh sudah full-booked maka lahirlah tawaran ini.
Dari pembicaraan dengan volunteer asli Nusa Penida yang kebetulan sedang berada di sana, spot untuk snorkeling paling bagus di Nusa Penida sebenarnya adalah di pantai yang berada tepat di seberang lokasi FNPF (FNPF berada di daerah Ped), sedangkan daerah Toya Pakeh yang juga terkenal sebagai spot snorkling sebenarnya tidak memiliki kelebihan apapun selain tempat mangkal kapal Quiksilver. Karena biasanya awak Quiksilver banyak membawa makanan, ikan-ikan pun menjadi ramai mendatangi spot ini [ikan asli Indonesia pun doyan gratisan, he]. Sedangkan dari segi pemandangan bawah lautnya jauh lebih menarik spot di Ped ini.
Underwater Snorkelling/Diving Spot at Nusa Penida:
Akhirnya kami bertujuh sepakat untuk “melaut” di pantai depan FNPF sehabis makan siang.
Dan memang pemandangan laut di sana bisa dibilang lumayan daripada lumanyun
, kami pun tidak sendiri karena terbukti kami melihat 6 boat kecil lainnya yang berdiam dan menurunkan para snorklers di sana. Saran saya agak sedikit berhati-hati ketika menuju laut dan ketika akan menepi karena banyaknya lahan rumput laut di sekitar bibir pantai.
Tiga jam “melaut” membuat kita cukup puas dan cukup hitam, terlebih kita harus jalan sedikit agak jauh untuk kembali ke titik awak karena terbawa arus ketika di laut.
konyol #1:
Ini foto-fotonyaaaaaaaa, silakan iriiiii…
Sehabis mandi dan melihat-lihat anak-anak sekitar yang berlatih menari bali di FNPF, kami pun bersiap untuk melihat matahari terbenam yang konon terlihat sempurna dari Crystal Bay aka Manta Point yang terletak di Desa Sakti.
Sayang, sedikit mendung, tapi keindahan Crystal Bay terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja jadi mendung tidak menghalangi niat kita untuk mengabadikan semuanya. *Gubrak*
Sepulang dari Crystal Bay kita berencana untuk sembahyang di Pura Dalem Ped dan Pura Goa Giri Putri. Tujuan pertama, Pura Goa Giri Putri.
info #1:
Kali kedua tangkil di Pura Goa Giri PUtri masih tetap membuat saya takjub akan keindahannya. Plus beberapa perbaikan signifikan, membuat para pemedek yang tangkil bisa lebih nyaman menunaikan persembahyangan. Ahhh… Total kita melakukan 7 kali persembahyangan plus 1 kali melukat di tempat ini. Bagi yang ingin bersembahyang di sini, ingat bawa bunga dan canang yang banyak yaaa… Dan wadah tirta juga.
Sepulang dari Goa Giri Putri, hari sudah berangsur gelap, dan perut sudah protes tanda minta kembali di isi., dan kita sukses jadi pengunjung trakhir di warung makan di dekat Pura Ped. Sudah terlalu malam, dan rencananya besok kita akan memulai hari sedikit lebih pagi untuk snorkeling lagi, jadi kita mengurungkan niat untuk sembahyang di Pura Dalem Ped malam itu, lagipula Pak Panca sudah terlihat sedikit lelah, bukankah psikologis supir harus kita dahulukan daripada apapun juga, he..
Hari itu pun kita tutup dengan istirahat ditemani nyanyian dedaunan yang ditiup angin setelah menyempatkan diri bercerita mengenai isu lingkungan yang memang diusung oleh rekan-rekan di FNPF.
Bersambung ke Bagian 2. Ngga kalah seru loh. Suer!!
“Nama saya Yunaelis, cukup panggil Yuna. Saya bekerja di sebuah kantor hukum di daerah Simpang Siur Kuta sebagai asisten pengacara,”
Itulah perkenalan singkat saya di depan teman-teman peserta pelatihan Komputer dari Yakkum. Soal yakkum akan saya bahas belakangan ya.. Janji.. *kasih kelingking*
Semua peserta menatap saya penuh rasa ingin tahu, profesi pengacara memang selalu terdengar lebih WAH daripada tampilan aslinya, hehe.. *GR berat* Tak terkecuali bagi lelaki muda berambut kriting yang duduk paling dekat dengan tempat saya berdiri. Dia memandang saya lekat-lekat.